Meski banyak merasakan hal pahit dalam hidupnya, Ketua Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), Sumartono Hadinoto menyebut bahwa semua ujian dari Tuhan bukanlah cobaan semata.
Dalam podcast bersama TribunSolo, Martono mengatakan manusia tidak bisa milih lahir menjadi anak siapa dan lahir dimana.
"Hidup ini pilihan kita ya tentunya, juga selain pilihan, Tuhan sudah memberikan jalan atau amanah yang mana kita harus syukuri kita jalani semuanya dengan bersyukur dan dengan bahagia," ujarnya.
SUMARTONO HADINOTO. Ketua Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) Sumartono Hadinoto (kanan) saat podcast di kantor TribunSolo.com, Klodran, Karanganyar, Senin (27/1/2025) lalu. Sumartono menjadi salah satu korban kerusuhan Mei 1998 silam. Suasana Solo kala itu disebutnya sangat mencekam.
SUMARTONO HADINOTO. Ketua Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) Sumartono Hadinoto (kanan) saat podcast di kantor TribunSolo.com, Klodran, Karanganyar, Senin (27/1/2025) lalu. Sumartono menjadi salah satu korban kerusuhan Mei 1998 silam. Suasana Solo kala itu disebutnya sangat mencekam. (TribunSolo.com/Anggorosani Mahardika)
Lahir di Solo tahun 1956, ia mengaku tumbuh dan besar menyaksikan sejumlah konflik yang sempat terjadi, mulai dari PKI hingga kerusuhan Mei 1998.
"Jadi dalam perjalanan hidup saya banyak sekali hal-hal yang tidak menggembirakan," katanya.
Salah satu yang masih diingatnya yakni batalnya rencana untuk kuliah di luar negeri.
Sewaktu SMP, ia dan orang tuanya sepakat bahwa akan melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Apalagi waktu itu ayahnya merupakan lulusan sarjana dari London.
Dari situ, ia juga termotivasi untuk dapat melanjutkan kuliah di luar negeri.
Keberangkatannya tinggal menunggu waktu. Namun, takdir berkata lain.
Ayahnya meninggal dunia sehingga sebagai satu-satunya anak laki-laki dari tiga bersaudara, ia harus menemani ibunya.
"Ternyata Tuhan sudah menyiapkan atau berkehendak yang lain. Punya rencana yang lebih indah, ayah saya meninggal sehingga saya tidak bisa berangkat. Saya harus menemani ibu dan membantu ibu bekerja yang akhirnya saya cuma lulus S3 di Solo SD, SMP sama SMA," katanya.
Dari kejadian itu, ia mendapatkan pelajaran bahwa tak semua yang sudah direncanakan dapat berjalan dengan baik.
Banyak lagi selain kejadian itu yang membuatnya kecewa.