Belum lama panggilan sebelumnya berakhir, layar ponselnya kembali menampilkan nama lain yang membutuhkan bantuan. Ada yang mencari ambulans, mobil jenazah, atau pertolongan apapun.
Bagi Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surakarta sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) itu, hari-harinya memang nyaris tak pernah lepas dari membantu orang lain.
Di usia 70 tahun, ia justru merasa inilah jalan hidup yang telah digariskan Tuhan untuknya.
Padahal, puluhan tahun silam, Martono memiliki mimpi yang berbeda.
Mimpi yang Berubah karena Takdir
Lahir di Surakarta pada 21 Maret 1956, Martono tumbuh dalam keluarga yang dapat dikatakan menaruh perhatian besar pada pendidikan.
Ayahnya, seorang lulusan dari Inggris, berharap putranya dapat melanjutkan pendidikan ke Belanda setelah lulus SMP dan tinggal bersama keluarga yang telah lebih dulu menetap di sana.
Saat Martono lulus SMP, sang ayah meninggal dunia. Kepergian sosok yang menjadi kepala keluarga membuat impian belajar ke luar negeri harus terkubur.
Ia memilih melanjutkan pendidikan hingga SMA di Surakarta sambil membantu ibunya mengelola usaha batik keluarga.
“Tapi Tuhan berkehendak lain. Jadi waktu saya lulus SMP, ayah saya meninggal. Akhirnya, saya hanya melanjutkan SMA di Solo dan waktu itu sudah mulai membantu ibu,” kenang Sumartono Hadinoto (70) saat ditemui pada Sabtu, (25/7/2026).
Sayangnya usaha batik tersebut berhenti setelah dirinya lulus SMA.
Oleh karena itu, Martono mulai bekerja di sejumlah perusahaan.
Ia pernah mencoba berbagai pekerjaan sebelum akhirnya bertahan hampir tujuh tahun di sebuah perusahaan variasi mobil. Pengalaman itu menjadi bekal berharga yang mengubah arah hidupnya.
Kesempatan yang Datang Tanpa Diduga
Setelah menikah di usia 30 tahun kemudian menanti kelahiran anaknya di usia 31 tahun, Martono, dengan dorongan dari ibunya, mulai berpikir untuk memulai usaha sendiri.